korupsi, nepotisme,
Protes besar-besaran baru-baru ini di Nepal dipicu oleh larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah, namun dengan cepat meluas menjadi gerakan yang lebih besar. Protes ini sebagian besar dipimpin oleh kaum muda yang frustrasi dengan korupsi, nepotisme, dan pengangguran di negara mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai "protes Gen Z." 🇳🇵
\
Protes besar-besaran baru-baru ini di Nepal dipicu oleh larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah, namun dengan cepat meluas menjadi gerakan yang lebih besar. Protes ini sebagian besar dipimpin oleh kaum muda yang frustrasi dengan korupsi, nepotisme, dan pengangguran di negara mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai "protes Gen Z." 🇳🇵
Latar Belakang dan Penyebab
Gerakan protes ini berakar pada ketidakpuasan yang sudah lama ada. Meskipun Nepal telah beralih ke demokrasi, banyak warga merasa pemerintah gagal memenuhi janjinya. Beberapa faktor utama yang memicu kerusuhan ini meliputi:
Larangan Media Sosial: Pemerintah Nepal melarang beberapa platform media sosial populer seperti Facebook, X, dan YouTube, dengan alasan perusahaan-perusahaan tersebut tidak terdaftar secara resmi di negara itu. Tindakan ini dianggap sebagai upaya untuk membungkam kebebasan berpendapat.
Kesenjangan Ekonomi dan Korupsi: Kemarahan publik memuncak ketika kampanye di media sosial menyoroti gaya hidup mewah anak-anak politisi, yang secara ironis dijuluki "nepo kids" (anak nepotisme), sementara banyak pemuda Nepal kesulitan mencari pekerjaan dan terpaksa pergi ke luar negeri.
Kekerasan dari Pihak Berwajib: Demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi kekerasan setelah polisi menembaki para demonstran, yang mengakibatkan puluhan korban jiwa. Hal ini memicu gelombang kemarahan yang lebih besar.
Kronologi dan Dampak
Protes dimulai pada 8 September 2025 dan dengan cepat menyebar. Pada hari-hari berikutnya, kerusuhan memuncak:
Demonstran membakar bangunan pemerintah, termasuk gedung parlemen, kantor perdana menteri, dan rumah-rumah politisi terkemuka.
Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri, dan beberapa pejabat senior lainnya melarikan diri.
Tentara Nepal dikerahkan untuk menegakkan jam malam, dan ribuan narapidana melarikan diri dari penjara di tengah kekacauan.
Hingga saat ini, situasinya masih belum stabil. Larangan media sosial telah dicabut, tetapi pencarian pemimpin interim yang kredibel terus berlanjut. Banyak pihak berharap kerusuhan ini dapat mendorong perubahan nyata dan mendasar dalam politik Nepal.
Di tengah situasi ini, mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki, yang dikenal karena integritasnya, diusulkan oleh beberapa kelompok pemuda untuk memimpin pemerintahan sementara.
Video ini dari ABC News memberikan laporan tentang protes mematikan di Nepal yang dipicu oleh larangan media sosial. Baca selengkapnya.Deadly protests in Nepal sparked by social media ban

Tidak ada komentar:
Posting Komentar